Kegigihannya
Dari judul dapat
merangkum segala isi buku tentang “ Kegigihannya “ karya Windi Hendra. Dalam buku
ini, Windi Hendra menuliskan segala hal-hal tentang Bude Kasih yang belum
diketahui banyak orang. Berhubungan dengan suatu pekerjaan Bude Kasih, mengutip
kehidupan Bude Kasih seperti membaca sebuah kisah pengalaman dari Bude Kasih
yang hidup sederhana telah meraskan suka-dukanya kehidupan yang di rasakan oleh
Bude Kasih.
Tiupan
angin dipagi hari yang begitu segar dan sejuknya, membuat badan menjadi sehat.
Hari berganti bulan-bulan berganti tahun, sungguh, melihat seorang wanita tua
yang memakai terudung senyum manisnya, dan bermata sipit sambil berjalan menuju
halaman parkiran dari kejauhan sana.
Dari
kejauhan saya melihat Bude Kasih sedang menyapu halaman parkiran dipagi hari.
Ketika saya sedang duduk ditaman FKIP yang di sediakan dosen. Ia menyapu dengan
senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya, wajah yang penuh semangat dan
kegigihannya yang dia lakukan.
*
Setengah jam
kemudian, bude menyelesaikan pekerjaan yang ia kerjakan tadi, ia pun menuju
tempat dimana saya duduk sambil membawa tas yang berisi minum yang ia bawa dari
rumah. Lalu Bude Kasih duduk disamping saya. Saya menyapa “pagi bude..”,”iya
pagi juga nak”..balas bude,
“cepat
kali kamu datang nak, masih pagi kali loh”, kata Bude. “iya bude, saya mau
menghirup udara segar buk...”,jawab saya.
Saya
memandangi buk de tersebut, sambil melihat wajahnya yang kelelahan itu. Saya
jadi berpikir ibuk saya yang dirumah, bahkan saya jadi rindu sama ibukku.
*
“bude,
sejak kapan kerja disini buk ?” tanya saya. “sejak tahun 1999, nak “jawab buk
de. Begitu semangatnya bekerja demi kebutuhan untuk hidupnya. Saya jadi
termotivasi, karena ibu tersebut sangatlah pekerja keras dan memiliki
kegigihannya yang kuat akan pekerjaan yang dia lakukan. Ia tidak malu dengan
pekerjaanya. Pekerjaan yang ia lakukan begitu halal.
Lepas
itu buk de beranjak dari tempat ia duduk tadi, ia mengambil sebuah plastik besar,
ternyata ia mengambil botol-botol, aqua gelas dan kardus untuk ia jual nanti.
Ternyata selain pekerjaanya ada pekerjaan sampingan, yaa mungkin untuk
kebutuhan dapur untuk sedikit membantu perekonomiannya.
Satu
persatu aqua gelas ia bersihkan, yang berisi air ia buang. Sambil duduk dia
masukan ke dalam plastik yang dia bawa tadi.
Lima
menit kemudian, yang bude kerjakan tadi telah selesai, lalu ia minum air,
sambil menarik nafas, begitu lelahnya ia lakukan dengan keseharian wajibnya.
Saya jadi sedih melihat ia bekerja dengan kegigihannya, saya membayangkan ibuk
saya yang di rumah “ bagaimana ketika ibuk saya seperti buk de lakukan ?”,
pasti saya merasa sedih sekali melihat ibuk saya yang begitu lelahnya buk de
lakukan dengan pekerjaan yang buk de lakukan. Saya jadi rindu ibuk saya dan
ingin sekali memeluk ibuk saya. Setahun sekali saya hanya bisa pulang kerumah.
Dan kini saya banyak menghabiskan waktu kuliah untuk masa depan saya.
Saya
sungguh menyadarinya kalau pekerjaan tersebut tidak mudah dilakukan setiap
harinya. Mungkin ketika saya di posisinya saya tidak sanggup melakukannya
setiap hari seperti buk de lakukan saat ini.
The end